No, yang berbicara kali ini bukan Margarita, tapi penciptanya.
Fantasy Fiesta 2012 sudah berakhir sejak tanggal 1 lalu, dan sepertinya itu akan jadi lomba Fantasy Fiesta terakhir. Jadi for some reason saya mendapat hasrat untuk mengenang kembali pengalaman saya soal lomba ini.
Pertama kali saya tahu soal Fantasy Fiesta adalah di tahun 2010, setelah – kayaknya – Ewing memasang info lombanya di RPCN VGI. Sebelumnya, saya tidak tahu ada Fantasy Fiesta 2009. Jadi melihat ada lomba yang mengharuskan isi cerpennya fantasi ini agak… mengejutkan. Soalnya saya sebelumnya memburu berbagai lomba menulis, dan hanya ketemu lomba-lomba soal cerita inspirasional, kehidupan remaja, sama lomba kisah romansa.
Problem is, waktu Fantasy Fiesta 2010 ini diadakan… saya sedang mengalami tekanan inferiority complex parah. Apa lagi sesudah mayoritas warga forum VGI (Ewing, Juunishi Master, Shiki, Nebunedzar, Fallen Angel) berniat untuk ikut lomba, saya semakin yakin kalau saya mengirim entry sekalipun saya tidak akan menang. Jadi selama beberapa hari saya hanya berpundung-pundung, mengharapkan waktu cepat berlalu biar segala percakapan soal lomba ini akhirnya berhenti.
Hanya saja, setelah disarankan oleh Juunishi dan Shiki untuk ikut, saya akhirnya iseng nekat juga. Target saya sederhana: bikin cerita secepatnya, terus berharap saja biar juri-juri Fantasy Fiesta tidak mencantumkan lima cerita terjelek dalam pengumuman nanti. Karena saya yakin saya hampir pasti akan masuk ke sana.
Awalnya, saya kurang yakin fantasi seperti apa yang dimaksud di keterangan. Apa itu hanya fantasi ala LOTR? Fantasi ala JRPG-WRPG? Karena di sana tidak ada larangan untuk horror, ya saya akhirnya memutuskan untuk bikin horror saja sekalian. Kebetulan waktu itu saya sedang menulis kisah surreal horror (Door of Summer) dan sedang suka-sukanya membaca Creepypasta. Inspirasi utama saya sendiri adalah salah satu episode X-Files, di mana Mulder dan Scully terperangkap di dalam realita palsu. Bahkan nama pertama untuk dokumen itu adalah “X-Files” karena saya belum terpikirkan judulnya.
Naskah ini kemudian jadi dalam tiga jam. Karena malu dan takut menerima kritikan, saya hanya menunjukan versi beta naskah ini ke dua orang: adik saya dan Shiki. Respon dari keduanya bagus, tapi saya tetap tidak percaya diri kalau naskah ini betul-betul bermutu. Jadi saya melanjutkan bergalau-galau, hingga akhirnya saya memutuskan mengirim naskah ini di malam hari. Judulnya, Apollyon, saya pilih setelah skimming kamus nama-nama Demon. Salah satu artinya, Place of Destruction, kayaknya cukup mewakili isi ceritanya.
Sehari sesudah karyanya dikirim, saya menjadi paranoid. Saya memeriksa rinci setiap paragraf Apollyon dan menemukan banyak sekali typo. Jadi saya mati-matian merevisi untuk menyelamatkan diri dari cemoohan ekstra yang saya yakin akan saya terima. Kalau tidak salah saya sempat mengirim versi revisi ini satu-dua kali, sebelum saya merasa malu untuk mengirim lebih banyak lagi.
Periode sebelum pengumuman itu juga terasa mencekam sekali bagi saya. Ada beberapa nama orang yang sudah menerbitkan buku (Tyas Palar, Andry Chang), ada juga sosok-sosok yang sebenarnya saya anggap sebagai dewa kepenulisan di net (Luz, F.A Pur, Ewing). Jadi, well… saya sampai memikirkan, “Ngapain ngirim cerita ke sini sih?!”
Ketika lapak cerita mulai dibuka, doa saya kepada Allah hanya supaya yang berkunjung tidak kejam-kejam ngasih kritik. Saya refresh halaman page setiap satu sampai lima menit, baik di rumah, di jalan, dan di kampus. Setiap ada nama asing yang melempar komen ke lapak saya, jantung saya berdegup tidak karuan, tubuh saya mendingin, dan perut saya sakit. Untungnya, well, benar-benar tidak ada kritik membara dari awal sampai akhir. Kalau ada mungkin saya sudah depresi.
Tetap saja, waktu akhirnya tanggal pengumuman, saya berharap tidak ada daftar “Bottom Five.” Waktu mendekati jam pengumuman, saya berguling-guling tidak jelas, tak bernafsu untuk main Xbox, menulis, dan melakukan apapun. Waktu akhirnya pengumumannya benar-benar keluar…
Well…
Uh…
I’m screaming.
Itu pertama kalinya saya menduduki peringkat atas di lomba sejak saya SMA. Itu juga benar-benar pertama kalinya cerita saya memenangkan sesuatu. Setelah sempat lama sekali ragu apa saya harus tetap menulis, juara dua di FF 2010 ini seakan menandakan kalau ya, saya memang harus tetap menulis. Tidak berlebihan, saya rasa, kalau kemenangan ini disebut sebagai salah satu landmark penting dalam sejarah kepenulisan saya.
Kemudian Fantasy Fiesta 2010 akhirnya dibukukan, lomba twitter membuat follower saya yang tadinya hanya terdiri dari sekitar 10-15 orang meningkat, dan saya yang hikkikomori ini bisa berkenalan dengan beberapa kawan baru. Euforia dari prestasi ini, dipadukan dengan sifat karakter Rose McLachlan dari cerita Managing Rose yang saya tulis sesudah buku FF 2010 keluar, kemudian menciptakan persona… King Awesome.
Kesimpulan? Fantasy Fiesta 2010 berhasil membunuh inferiority complex panjang yang sudah mencengkeram saya sejak 2005. :V
Special thanks juga saya kasih ke Shiki dan Juunishi, yang kayaknya jadi dua orang paling berpengaruh dalam mendorong saya ngirim. Kalau tidak karena dua ini, saya mungkin sekalian tidak ikut Fantasy Fiesta sampai akhir XD
Untuk FF 2011, akan dibahas di postingan selanjutnya.




